Kisah Beberapa Hari Sebelum Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Inilah kisah beberapa hari sebelum wafatnya Nabi
Muhammad SAW, sang manusia agung. Kehadiran Nabi Muhammad SAW pada dunia adalah
pembawa rahmat keseluruh alam. Ketika lahirnya, seluruh makhluk penghuni langit
dan bumi merasa gembira, bahkan ikan-ikan dilaut merasa sangat senang. Semua
berhala sembahan manusia terjatuh dan api yang tak pernah kunjung padam
dipersia sebagai sembahan mereka Padam seketika, Dan tidak hidup lagi.
Sebaliknya pula, ketika beliau pergi meninggalkan dunia ini, semua alam
bersedih. Seakan tidak rela berpisah terhadap beliau.
Sesuai dengan apa yang dikisahkan oleh sahabat nabi
yang bernama Anas bin Malik “Tiada hari yang paling indah dan cerah selain hari
kedatangan Nabi Muhammad Saw. ke Madinah. Dan tiada hari yang lebih mendung dan
muram daripada hari ketika Rasulullah Saw. wafat di Madinah”.
Berikut kisah beberapa hari sebelum wafatnya Nabi
Muhammad SAW
Minggu, 4 Rabi’ul Awwal 11 H (Seminggu sebelum
wafat)
Nabi Muhammad Saw. baru saja kembali dari ziarah
maqam para shahabat (baqi’), ketika Malaikat Jibril menemui Beliau dan
mengajukan dua pilihan. Apakah Rasulullah menginginkan dunia dan segala isinya,
atau bertemu Allah Swt? Dan Rasulullah Saw memilih opsi kedua.
Setibanya di rumah, Aisyah ra. menyambut Rasulullah
seraya berkata; “Wahai Rasul, kepalaku pusing”. Rasulullah-pun tersenyum, “Demi
Allah wahai istriku, kepalaku juga pusing sekali”. Lalu Rasulullah bertanya
kepada Aisyah sambil bersendagurau, “Apa yang menjadi beban pikiranmu, bila
engkau meninggal duluan sebelum aku?”
Sambil bersenda mesra Aisyah menjawab, “Demi Allah,
jika demikian wahai Muhammad, Engkau tinggal menjumpai istri-istrimu yang
lain”. Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Aisyah, dan Beliau tidur pada
malam itu dalam keadaan sakit. Inilah permulaan sakit Rasulullah yang
menyebabkan wafatnya beliau.
Rabu, 7 Rabi’ul Awwal 11 H (Lima hari sebelum wafat)
Seperti biasa Nabi Muhammad Saw. mengunjungi
istri-istrinya secara adil. Dan setibanya di rumah Maimunah ra, sakit Beliau
tiba-tiba bertambah parah. Lalu Rasulullah memanggil istri-istrinya untuk
berkumpul, lalu meminta izin agar bisa dirawat di rumah Aisyah ra. Keadaan
Rasulullah semakin parah, beliau terpaksa dipapah oleh Fadhil bin ‘Abbas
dan Ali bin Abi Thalib menuju ke rumah Aisyah, sedang kedua kaki Beliau sudah
tidak bisa menapak tanah.
Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 11 H (Empat hari sebelum
wafat)
Rasulullah meminta dibawakan untuknya tujuh bejana
berisi air dari tujuh sumur yang berbeda. Dalam posisi duduk, Rasulullah
dimandikan dengan air tersebut. Karena merasa pusingnya agak berkurang,
Rasulullah keluar dan berkhutbah di hadapan ummatnya. Dan pada hari itu juga,
Rasulullah masih sempat shalat magrib berjamaah bersama para shahabat.
Itu merupakan khutbah terakhir Rasulullah, dan
shalat terakhir beliau bersama para sahabat dan pengikutnya.
Minggu, 11 Rabi’ul Awwal 11 H (Satu hari menjelang
wafat)
Nabi Muhammad Saw. membebaskan semua hamba
sahayanya, dan menghibahkan seluruh peralatan perangnya kepada kaum muslimin.
Tidak ada yang tersisa dari harta Beliau kecuali disedekahkan semuanya.
Senin pagi, 12 Rabi’ul Awwal 11 H (Hari wafatnya
Rasulullah)
Ketika kaum muslimin sedang menunaikan sholat shubuh
berjama’ah, dan Abu Bakar r.a bertindak sebagai imam. Rasulullah membuka pintu
rumahnya yang bersebelahan dengan jama’ah shalat. Rasulullah tersenyum
menyaksikan para shahabatnya mendirikan shalat. Beliau teringat perjuangan
menyebarkan Islam yang telah beliau tempuh bersama para shahabatnya itu selama
23 tahun.
Abu Bakar dan sebahagian jamaah sadar kalau
Rasulullah sedang memperhatikan mereka di depan pintu rumahnya. Nyaris saja Abu
Bakar melangkah mundur sebagai isyarat agar Rasulullah mengimami mereka, namun
Rasulullah berkata, “Lanjutkan shalat kalian..” Rasulullah tersenyum dan
menutup kembali pintu rumahnya.
Itu adalah kali terakhir para shahabat melihat
Rasulullah sebelum beliau wafat. Dan juga kali terakhir Rasulullah melihat para
shahabat, dan saat itu mereka dalam keadaan sedang shalat.
Senin, waktu dhuha, 12 Rabi’ul Awwal 11 H (Hari
wafatnya Rasulullah)
Fathimah ra., putri Rasulullah Saw mendatangi
beliau, dan duduk di sebelah kanan Rasulullah. “Selamat datang wahai putriku”
Sapa Rasulullah. Lalu beliau membisikkan sesuatu kepada Fathimah, seketika
Fatimah menangis. Rasulullah membisikkan untuk kedua kalinya, dan seketika itu
pula Fatimah tertawa.
“Apa yang dikatakan Rasulullah Saw kepadamu?”
Tanya Aisyah ra.
“Pertama, Rasulullah membisikkan kepadaku; ‘Bahwa
Malaikat Jibril biasanya menemuinya sekali dalam setahun untuk membacakan
ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, tahun ini Jibril dua kali menemuinya. Ini mungkin
pertanda ajalnya sudah dekat’. Makanya aku menangis”. Jawab Fatimah Ra.
Lalu Fatimah melanjutkan, “Yang kedua, Rasulullah
menanyakan, ‘Apa kamu bersedia menjadi yang pertama dari keluargaku yang akan
melanjutkan perjuanganku? Atau bersediakah engkau menjadi ‘Ibu bagi orang-orang
yang beriman(ummahatulmukminin)?’ Dan aku tertawa haru mendengar pertanyaan
itu”, tuntas Fatimah ra.
Ini adalah dialog terakhir antara Rasulullah dengan
putri tercintanya Fatimah Ra.
Senin, detik-detik wafatnya Rasulullah, 12 Rabi’ul
Awwal 11 H
Di detik-detik terakhir, datang Abdurrahman bin
Abubakar (Abang dari Aisyah ra) dan ia membawa siwak (kayu yang biasa digunakan
untuk membersihkan gigi). Aisyah melihat Rasulullah memperhatikan siwak
tersebut, dan lewat isyarat istrinya tahu Beliau seperti ingin bersiwak saat
itu. Lalu Rasulullah duduk bersandar pada Abdurrahman. Aisyah ra. langsung
tanggap dan meminta siwak dari Abdurrahman agar Rasulullah bisa bersiwak, dan
bersiwak adalah pekerjaan Rasulullah yang terakhir sebelum menemui ajal.
Setelah selesai bersiwak, Rasulullah memandang ke
atas, dan bibir beliau berkomat-kamit pelan hingga Aisyah ra mendekatkan wajahnya
dan mendengar Rasulullah berdo’a :
مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين،
أللهم اغفرلي وارحمني والحقني بالرفيق الأعلى.. أللهم الرفيق الأعلى.. أللهم الرفيق
الأعلى.. أللهم الرفيق الأعلى..
Artinya:
“Sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat dari golongan para Nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada dan para
shalihin. Wahai Allah, ampunilah dosaku, sayangilah aku, dan pertemukan aku
dengan-Mu (Kekasihku Yang Maha Tinggi). Wahai Allah, Kekasihku Yang Maha
Tinggi.. Wahai Allah, Kekasihku Yang Maha Tinggi.. Wahai Allah, Kekasihku Yang
Maha Tinggi.
Setelah membaca kalimat di atas, Nabi Muhammad
Rasulullah membasuh wajahnya dengan air yang tersedia di sisi beliau, dan
kembali melafadhkan:
إن للموت لسكرات.. أللهم الرفيق الأعلى.. أللهم الرفيق
الأعلى.. أللهم الرفيق الأعلى..
Artinya:
“Sesungguhnya kematian itu akan menghadapi
‘sakaratulmaut’, Wahai Allah, Kekasihku Yang Maha Tinggi.. Wahai Allah,
Kekasihku Yang Maha Tinggi.. Wahai Allah, Kekasihku Yang Maha Tinggi..”
Lalu Rasulullah-pun menghembuskan nafas
terakhirnya.. setelah menyampaikan pesan terakhir Beliau kepada ummatnya;
الصلاة.. الصلاة.. الصلاة.. وما ملكت أيمانكم
(Dirikanlah shalat, shalat, shalat! Dan bebaskan
budak-budakmu..!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar