Minggu, 22 November 2015

CINTA PERTAMA TIDAK SELALU BERAKHIR INDAH

Dinda,Ulfa,Tamara,dan Rinjani bersahabat sejak duduk disekolah dasar (SD) sekolah mereka berbeda tetapi rumah mereka berdekatan sehingga perbedaan sekolah tidak menjadi sebuah alasan untuk mereka tidak bersama. Beranjak SMP (sekolah menengah pertama) mereka berbeda sekolah juga. Hanya dinda dan ulfa yang satu sekolah lain hal-nya dengan rinjani dan tamara mereka berdua berbeda sekolah. Lulus SMP (sekolah menengah pertama) tidak disangka-disangka dinda,ulfa,tamara, dan rinjani melanjutkan sekolah mengengah akhir-nya (SMA) di sekolah yang sama, walaupun mereka berbeda kelas. Hari demi hari persahabatan mereka semakin kuat karena mereka tidak hanya bertemu disekolah saja tetapi dirumah pun mereka bertemu,bahkan berangkat serta pulang sekolah selalu bersama-sama. Mereka bertukar cerita tentang teman-teman baru-nya di kelas mereka masing-masing ada yang lucu,menyebalkan,seru, ada pula yang aneh. Tidak terasa sudah memasuki semsester ke-2 di kelas X (sepuluh) seluruh kelas X diwajibkan membuat drama kelas untuk mata pelajaran “seni budaya” drama itu untuk nilai praktek UAS (ulangan akhir semester) sehingga semua kelas wajib harus membuat drama. Kelas-nya tamara mendapat giliran tampil pertama, tamara dan teman sekelas-nya sedang sibuk-sibuk-nya membuat property untuk keperluan drama, didalam satu kelas memang ada bagian bagian-nya ada yang menjadi sutradara,aktor,aktris,kru,dan lain lain. Tamara menjadi penata properti yang agak sulit karena memang diperlukan kreatifitas yang tinggi ditambah lagi harus hand made (buatan sendiri),karena kebetulan rumah tamara dekat dari sekolah jadi tamara memustuskan untuk membuat properti di lapangan perumahan-nya bersama teman sekelas-nya. Tamara meminta dinda,rinjani,dan ulfa membantu-nya untuk membuat properti dan tamara pun mengenalkan teman-teman kelasnya.

Tepat tanggal 27 mei 2013 di malam hari sekitar pukul 19.00 wib tamara,rinjani,dan ulfa mengajak dinda untuk ikut dengan mereka tetapi dinda masih dalam keadaan belum mandi dan masih sangat berantakan.
T : “din ayooklah ikut bentaran doang katanya mau liat temen gua yang kocak”
R : “iya ayo napaaaaa”
U : “iyakk ayo gua tungguin lu mandi sekarangg nih”
D : “ah mager guaa udah lu lu pada aja”
T : “temen nih begini katanya kite sahabat”
D : “udahhh lu pada ajaa tar kelamaan kalo nungguin gua mandi”
U : “kagaaa udah sono mandi tar kan gua tungguin”
R : “tau yak sonooo mandi cepetan”
D : “bawel semua lu yee macem mak tiri iyeee elah”
T : “yaudah gau tunggu lapangan ya temen-temen gua udah pada disana tar kalian nyusul aja ye”
U : “iyak tam siap”

Dengan agak terpaksa dinda akhir-nya ikut dengan tamara,ulfa,dan rinjani. Ketika selesai mandi dinda,rinjani,dan ulfa bergegas menuju lapangan dimana tamara dan teman sekelas-nya membuat properti drama. Ketika hampir sampai lapangan tamara dan teman-teman kelas-nya memandang dinda,rinjani,dan ulfa. Panji teman tamara menanyakan dinda pada tamara, akhirnya tamara pun mengenalkan teman rumahnya pada teman sekelasnya. Waktu terus berjalan dinda,ulfa,dan rinjani membantu tamara dan teman sekelas-nya untuk membuat properti,untuk hiburan teman sekelas tamara mengajak main jempol (ibu jari) usro teman sekelas-nya tamara tidak berhenti membuat dinda tertawa terbahak bahak karena lelucon yang dia lontarkan. Tetapi ada yang menganjal sebab sedari tadi ketika semua asik bermain dan yang tidak ikut bermain asik menonton yang bermain, panji teman sekelas-nya tamara malah menatap dinda dalam-dalam dinda sadar tetapi dia pura-pura tidak tau saja karna sebenarnya dinda agak risih jika di tatap dengan tatapan yang mendalam seperti yang panji lakukan tadi. Waktu menunjukan pukul 22.00 saat-nya kembali ke rumah masing-masing,panji mengikuti dinda dari belakang panji bilang “gue jagain dia dari belakang takut dia kenapa kenapa” padahal di posisi itu panji sudah mempunyai kekasih dan dinda mengetahui-nya tetapi tanggapan dinda yang melihat panji seperti itu sangat biasa yang dia tau “laki-laki di dunia ini semua begitu-mah wajar paling becadaan doang”. Keesokan hari-nya tamara meminta rinjani,dan dinda membantu-nya lagi kali ini teman sekelas-nya hanya beberapa saja tidak sebanyak yang kemarin. Ada Danu,Tama, dan Alif teman sekelas-nya tamara serta dinda,dan rinjani kali ini ulfa tidak bisa hadir ikut menemani karena ada acara keluarga. Disitu tiba-tiba Tama meninta pin blackberry dinda dan langsung meminjam hape dinda dan dinda memberikan-nya. Properti belum selesai tetapi waktu sudah sangat larut malam akhirnya tamara memutuskan untuk melanjutkan dirumah tetapi hanya dengan teman teman-nya yang laki-laki saja,dinda dan rinjani pun pulang kerumah nya masing-masing. Hari mulai mendekati pementasan drama kelas-nya tamara sehingga tidak ada kata bermalas-malasan lagi semua teman sekelas-nya membantu proses pembuatan properti maupun aktor/aktris semua ikut terjun untuk membuat properti. H-2 pementasan,tiba-tiba teman sekelas dinda memberikan bunga pada dinda
R : “din ini nih bunga dari penggemar rahasia lo.
D : “lah dari siapa?”
R : “udah nih terima duluu harus disimpen ya amanah nih”
D : “apaan gamau gua kalo gajelas dari siapa siapa-nya”
R : “lah udah sih elahh berarti ga ngehargain lu udah ini nih simpen”
D : “ah bawel iye iye elahhh”
Setelah menerima bunga pemberian dari seseorang yang tidak diketahui dinda langsung menyimpan-nya didalam tas sambil bertanya tanya pemberian dari siapa itu sebenarnya. Tiba-tiba handphone dinda berbunyi dan ternyata ada pesan dari Tama teman sekelas-nya tamara yang beberapa hari yang lalu meminjam handphone dinda.
T : “dindaaa”
D : “iyaa kenapa?”
T : “ iseng aja lagi pengen bbm lu hehehe”
D : “ohgituuu”
T : “lu lagi gaada pelajaran?”
D : “engga nih hehe,lu?”
T : “samaa gaada,gue ganggu lu ga nih?”
D : “engga koooo,ehtapi brb ya ada guru masuk nih maafya”
T : “iya gapapa koooo,maaf ganggu ya din”
Setelah beberapa menit chat-chatan dinda kepikiran sesuatu sebenarnya dia ada perasaan sama tama tetapi dia ragu dan tidak percaya diri. Bel pulang telah berbunyi saat nya seluruh murid pulang,seperti biasa tamara,ulfa,rinjani dan dinda pulang sama-sama. Yang dinda tau teman-nya tamara yang bernama panji sudah mempunyai pacar yang bernama indah dan indah itu adalah teman smp-nya dinda dulu tetapi teman-teman sekelas-nya tamara selalu menggoda  panji dengan dinda,sebenarnya dinda pun bingung itu benar atau hanya sekedar gimik atau lelucon belaka. Diperjalanan pulang rinjani berkata pada dinda
R : “dinnn si panji serius tuh sama lu,dia bakal mutusin indah demi lu”
D : “ohyaaa?gila ah luuu bego aja dia mau sama gua, gua ama indah ya jauh lah. Cakepan dia kemana-mana”
R : “yehhh ga cayaann bgt sihluuu,cakep mah relative ya nyettt”
D : “emmm gitu bodoahhh gapeduli hahahahahahahahha”
R : “gaboleh gitu lu kalo lu diposisi dia gimana?emang enak di bodo amatin?”
D : “sudahlahh iya iyaaa udah gausah dibahas makanya”

                Hari pementasan untuk kelas tamara pun tiba. Rinjani dan ulfa sudah berada diujung lapangan untuk ,menonton. Tapi dinda tidak terlihat disana, rupanya dikelas dinda sedang berlangsung pelajaran kimia. Tapi dinda tidak kehabisan akal, dia pura-pura ijin ke toilet untuk menonton pementasan salah satu sahabatnya itu. Tidak disengaja, mata dinda dan panji bertemu. Panji terlihat sangat kikuk dan salah tingkah saat itu. Dinda lekas pergi menghampiri dua sahabatnya yang sudah menunggunya diujung lapangan untuk menonton.
Seusai pementasan, tamara berkata pada dinda bahwa ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
T : “din gue mau ngomong serius sama lu”
D : “lebay batt lu nyett so bat penting ah”
T : “seriusan anjir,jadi gini panji serius din sama lu dia udah mutusin indah buat lu”
D : “loh yang nyuruh putus itu siapa? Gue gapernah nyuruh dia putus sama pacarnya demi gue”
T : “masalahnya adalah dia suka sama lu dia mau deketin lu”
D : “yayaya what ever you say lah gapenting ya bahas bahas ginian”
Dinda pun mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan teman-teman sekelas-nya tamara tentang panji bukan gimik/sekedar lelucon tapi itu fakta. Dinda bingung perasaan-nya memang lebih pro kepada tama tetapi panji…bahkan akhir-akhir ini panji sering main kerumah tamara hanya untuk bertemu dengan dinda padahal pementasan sudah selesai tetapi dia tetap main kerumah tamara dan akhirnya dinda pun sering bertatap muka dengan panji ,tama dan teman-nya yang lain. Panji mendekati dinda dengan waktu yang sangat sangat singkat.

            7 juni 2013 sekitar pukul 19.30 wib rinjani menjemput dinda untuk ikut dengan-nya.
R : “din ayoo ikut gua yuk naik motor sini”
D: “gua tau itu motor siapa feeling gua gaenak dahh”
R : “yehh gaenak gaenak nanti juga lu seneng ayooo buruan”
D : “ada apaan si anjirrrr,ihelah iyee bawel”
Sesampai-nya dinda dan rinjani di lapangan ternyata ada tamara dan ulfa, dinda pun terheran-heran tetapi disitu jantung dinda berdegup sangat kencang seperti ada yang akan terjadi. Lalu mata dinda ditutup oleh tamara dan di gandeng ketengah lapangan oleh tamara, tiba tiba panji persis didepan dinda dan mengungkapkan sesuatu sambil menggegam tangan dinda dengan mata dinda yang tertutup serta ada ahmad yang mengiringi tamara,ulfa,dan rinjani bernyanyi lagu yg berjudul “could it be – raisa)
P : “din tau siapa aku?”
D : “tau, panji kan?”
Lalu perlahan-lahan membuka penutup mata dinda.
P : “iya hehehe,din jadi selama ini aku suka kamu, kamu mau jadi pacar aku?”
D : “ha?emm maaf bgt njii maff aku gabisa”
P : (diem gabegerak pucet)
D : “aku gabisa nolak”
P : “emmmm yeeeyyyy,makasihh din (ngasih bunga)
setelah itu dinda melihat tamara,rinjani,dan ulfa di pinggir tembok sedang menutup kuping entah apa yang mereka lakukan lalu dinda menghampiri-nya
D : “lo pada ngapain sihhh yaampunnn­”
T : “engga,gmn jawabannyaa?”
D : “ya gua terimaa,iyakan nji?”
P : “iyaa dongg taaamm,yeaay akhirnyaaaa”
R : “akhirnyaaaa dindaaaaa pacaran juga untuk yang pertama kalinyaa! Longlastttt”
U : “iya yaampun ganyangka bangettt ya din,selamaaat nji dinnn langgeng yaaa”
Y : “lebayyy ah iya makasih semuaaa”
P : “makasih semuaaa bantuannya tanpa kalian aku bukan apa-apa”
Setelah dari lapangan dinda dan panji ngobrol berdua
D : “nji ada yang aku mau omongin”
P : “ngomong aja gapapa din”
D : “kamu tau kan kalo aku baru kali ini pacaran,aku belum diizinin buat pacaran nji jadi kita bisa diem diem dulu kan pacarannya?”
P : “ohiyaaa gapapa kok din aku bisa ngertii”
D : “makasih ya njiii”
P : “gapapaaaa yaampun gausah bilang makasih udah kewajiban akuu kok”
Kesepakatan antara dinda dan panji kandas sudah karena tamara,ulfa dan rinjani mengumbar semua-nyaaa yaaa mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi…

Hari-hari terus berlalu tak terasa sudah kenaikan kelas ke kelas XI dan tak terasa hubungan panji dan dinda mau beranjak satu bulan. Tanggal 5 juli 2013 dinda dan seluruh teman sekelasnya mempunyai acara dengan wali kelas pada saat kelas X atau dalam istilah lain “perpisahan kelas” dan kebetulan dinda menjadi tim sukses dari acara itu, ada dinda,sonya,syarifa,alda,tiwi,aldi dan ardi. Mereka ber-7 tak jarang sering kumpul dirumah dinda untuk mempersiapkan acara perpisahan kelas, hampir  3 minggu acara dipersiapkan tetapi belum matang-matang karena ketidaksetujuan dari wali kelas akhirnya jalan terbaik sudah ditemukan dan sudah dipersiapkan matang-matang. Ardi sudah janji ingin mengajak dinda ke daerah Jakarta dengan menggunakan motor tetapi waktu belum tepat karena selalu habis begitu saja ketika rapat untuk mempersiapkan acara kelas,sampai akhirya ketika rapat selesai sekitar abis maghrib ardi nekat untuk berangkat tetapi ardi mengajak tiwi dan aldi untuk ikut ya hitung-hitung pacaran ke daerah Jakarta sambil menikmati indahnya malam hari. Tetapi bukan kah dinda sudah mempunyai panji?mengapa ia menerima tawaran ardi? Ya memang dulu dinda sangat sanagt menyukai ardi tetapi semenjak berteman akrab dinda sudah biasa ya walaupun sebenarnya masih luar biasa karena dinda sangat mengidolakan sosok seorang ardi, tetapi dinda menerima tawaran ardi karena dia belum pernah ke Jakarta menggunakan motor. Ardi bergegas mengembalikan mobil kerumahnya karena waktu kerumah dinda ia menggunakan mobil, tiwi dan aldi menunggu dirumah dinda, waktu hampir menunjukkan pukul 18.30 tetapi ardi terjebak macet sebenarnya tiwi ragu karena takut tidak diizinkan oleh ibunya tetapi tiwi dan aldi tetap ikut dengan dinda dan ardi. Ardi datang,lalu dinda,tiwi dan aldi bergegas untuk berangkat ke tempat tujuan yaitu “taman menteng” di daerah Jakarta. Karena dinda merasa jaketnya tipis sedangkan jaket ardi tebal dinda ingin menukarnya dan ardi pun mengalah memberikan jaketnya untuk dinda dan ardi memakai jaket dinda setelah siap dinda,ardi,tiwi dan aldi pamit kepada kebada ibu dinda dan ibu dinda bilang kepada ardi “titip dinda ya di hati-hati dijalan” sedangkan ibunya belum pernah sama sekali perlalakukan panji seperti ia memperlakukan ardi. Ya memang ibu dinda agak kurang setuju dengan panji. Tetapi dinda tetap mempertahankan hubungannya dengan panji. Diperjalanan dinda sangat merasa bersalah pada panji karena dia tidak meminta izin kepada panji kalau dia ingin pergi bersama ardi. Dinda sebenernya tau kalau panji sangat cemburu dengan ardi karena panji tau kalau dulu dinda sangat menyukai ardi itu juga mejadi alasan mengapa dinda tidak izin atau tidak bilang pada panji. Semilir angin angin malam sangatlah dingin pada saat itu dan ardi mengendarai motor dengan kecepatan yang agak kencang sehingga dinda terpaksa berpegangan dengan ardi tetapi dinda berpegangan dengan jaket ardi tidak sampai memeluknnya, berpegangan dengan jaket saja dinda sangat memikirkan panji, perasaan bersalah selalu ada didalam benak dinda tetapi semua sudah terlanjur. Sesampainya di tempat tujuan dinda,ardi,tiwi,dan aldi berkuliner dan menyusuri jalan disekitar tempat itu banyak yang menganggumkan karena banyak sekali komunitas-komunitas yang berkumpul dan dinda benar-benar merasakan apa yang belum dia rasakan sebelumnya. Setelah puas dengan kota Jakarta di malam hari itu dinda,ardi,tiwi,dan aldi bergegas untuk pulang kerumah masing-masing

Waktu semakin cepat saja rasanya. Besok, tepat sebulan dinda menjadi kekasih panji. Mereka menjalani hubungannya dengan sangat normal, panji adalah sosok laki-laki yang baik, setidaknya menurut dinda. Ia rutin menanyakan kegiatan dinda, bagaimana harinya berjalan, juga sangat peduli dengan cerita-cerita yang setiap hari dilontarkan oleh dinda. Panji adalah pendengar yang baik, yang juga kadang menjadi pemberi solusi yang baik.
Sebenarnya walaupun tidak ingin menunggu hari esok, dinda sangat menunggunya. Menunggu apa yang akan diberikan panji untuknya. Menunggu kejutan apa yang akan diberikan kekasih  pada kekasihnya dihari istimewa.

Di sisi lain, di tempat yang berbeda. Rinjani, tamara, dan ulfa sedang merancang kejutan untuk sahabatnya itu, dinda. Besok adalah hari ulagtahun dinda yang ke 15, sahabat sahabatnya sudah memiliki rentetan acara kejutan untuk sahabatnya itu. Tidak lupa juga mereka mengajak panji untuk ikut serta didalam rencana mereka. Panji pun sudah menyiapkan kado untuk dinda, kekasihnya. Rinjani, tamara dan ulfa juga mengajak teman teman kelas tamara yang saat ini sudah akrab sekali dengan mereka untuk bergabung memeriahkan acara kejutan mereka ini. Dan mereka semua meyetujui. Di malam tanggal 7 juli 2013 tepat pukul 23.30 tamara, ulfa dan teman teman kelas tamara berkumpul dirumah tamara untuk memulai kejutan. Namun kali ini, rinjani tidak bisa hadir karena malam itu ia harus menemani ibunya yang sedang kurang sehat. Hal itu pun di maklumi oleh teman teman yang lain. Saat rencana sudah tersusun dengan sangat rapih, mereka memutuskan untuk mengawali dengan datang kerumah dinda tepat pukul 24:00. Mereka datang ke kamar dinda dengan kebisingan yang sebenarnya menggangu anggota keluarga dinda yang lain. Dinda terlihat sangat malu pada malam buta itu, tetapi rasa senangnya tidak bisa ia tutupi. Sosok panji belum terlihat saat itu, panji adalah kejutan terakhir dari sahabatnya untuknya. Malam itu adalah hari ulangtahun dinda sekaligus hari dimana dinda dan panji tepat sebulan menjalin hubungan. Malam memang selalu menjadi saksi terbaik dari setiap kejadian kejadian indah yang terjadi di bumi.

            Setelah meniup lilin dan sebagainya, sahabatnya menggiring dinda menuju pagar rumahnya dan disanalah ada sosok laki-laki berdiri sangat tegak sambil memegang setangkai bunga dan menggendong sebuah boneka berwarna pink, warna kesukaan dinda. Panji memberikan hadiah yang telah dibawanya kepada dinda, yang diterima oleh dinda dengan senang.

            Awalnya, pada hari dimana panji menyatakan perasaannya dan meminta dinda untuk menjadi pacarnya, dinda belum sepenuhnya percaya bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh panji. Dinda selalu merasa membohongi dirinya seniri, tamn temannya, dan juga panji. Ia sendiri pun masih bingung dengan apa yang ia rasakan. Dinda belum benar benar menyukai panji, apalagi menyayanginya. Lalu apa yang sebenarnya ia rasakan pada laki-laki yang saat ini sudah menjadi kekasihnya? Bahkan dinda sendiri pun tidak mengetahui jawabannya. Tapi setelah pekan demi pekan yang mereka lewati, mungkin rasa yang dirasakan panji mulai dirasakan pula oleh dinda. Dinda menyadari bahwa apa yang panji rasakan benar-benar nyata, bukan kagum belaka. Mungkin selama ini hatinya takut kalau ia hanya dikagumi. Hari dimana umurnya bertambah ini meyakinkannya bahwa ia harus mulai mencoba untuk memperlakukan panji sebagaimana panji memperlakukannya.
Bunga yang panji berikan tadi malam sudah nampak mulai layu. Ingin rasanya dinda menaruhnya di vas bungta dan mengawetkannya. Tapi mau bagaimana, ibu nya akan mengetahui itu pemberian dari siapa an akan terus menerus meledeknya. Bukan hanya ibunya yang akan mengetahui, adik, kakak, serta ayahnya pun pasti akan ikut meledeknya. Tidak. Dinda memutuskan untuk membiarkan bunga itu layu lalu akan ia buang setelah nya.
Dinda terus saja memandangi boneka piggy berwarna pink yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk dipeluk oleh kedua tangannya pemberian dari panji. Dinda memandanginya sambil tak jarang memeluknya. Boneka iitu telah resmi menjadi teman barunya saat ini. Teman barunya untuk bercerita. Dan sekaligus obat rindu ketika sang pemberi berada jauh dari dirinya.

            Malam itu, ketika rinjani, dinda, tamara dan ulfa berkumpul dirumah tamara seperti hari sebelumnya untuk bermain sekaligus mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba panji mengirim sebuah teks ke ponsel dinda yang membuat dinda sedikit kaget lalu berubah raut wajahnya. Teman temannya mengerti, ada yang tidak beres. Beberapa menit kemudian, dinda baru bercerita kalau panji sudah mengetahui perihal kepergiannya bersama ardi dan teman temannya yang lain keliling Jakarta. Dinda mengakui kesalahannya yang tidak meberitahu panji atas kepergiannya malam itu, bukan maksud dinda sebenarnya untuk berbohong. Dinda hanya tidak ingin membuat panji berpikir yang bukan bukan. Tapi dinda juga sadar, tidak memberitahu panji itu juga berarti bencana. Dan bencana yang ia mulai dari beberapa hari yang lalu kini sudah terjadi. Apa boleh buat, dinda mengakui semuanya pada panji. Dinda pun mengatakan alas an mengapa ia tidak memberitahu pacarnya itu. Ternyata tidak lebih baik keadaannya, memang sudah seharusnya dari awal ia memberitahukan panji.

D: “ panji tau darimana yaaa?”
U: “aduhhh gatau gue”
R: “ kayaknya gue deh yang ga sengaja keceplosan. Tapi gue lupa giamana persisnya, feeling gue sih gue yang bilang ke panji, din. Sorry banget sumpah”
D: “ iya gapapa. Emang salah gue juga sih awalnya. Si panji marah banget lagi nih sama gue, lu pada tau sendiri kan gimana cemburunya dia sama ardi. Gara gara dia tau gue pernah suka sama ardi. Gue mesti gimana ya?”
T: “ cowok mah emang gitu, ntar juga reda sendiri dia. Lama lama juga dia ngerti kenapa lo ga bilang sama dia waktu itu. Ntar gue bantuin ngomong deh yak ke dia. Santai aja din, dia mah keselnya sebentar doang.”
U: “ wihhh kayaknya tamara tau banget ya sifatnya hahahahaha”
R: “ya iyalah fa, kan temen sekelasnya….”
T: “yaudahlah masalah panji ntar aja dibahasnya, bikin si dinda malah tambah bete kasian kalo dibahas mulu. Cerita yang lain aja kita cuy”
Mereka pun larut dalam cerita masing-masing. Memang sudah menjadi rutinitas untuk mereka menceritakan tentang yang terjadi pada masing-masing dari mereka satu sama lain. Setiap harinya pasti ada saja cerita baru yang wajib diceritakan saat berkumpul. Kadang juga mereka berkumpul dirumah ulfa, dirumah rinjani dan dinda. Tapi memang, rumah tamara adalah yang paling sering di datangi. Mereka sangat sederhana, tertawa, tanpa embel-embel harus saling mengikat. Yang paling penting adalah bagaimana caranya agar terus bisa bersama-sama membagi cerita, sedih ataupun bahagia. Ketika yang lain susah, yang lain bahu membahu  untuk menolong. Harapan mereka Cuma satu, bersama-sama sampai tua. Sampai memiliki suami dan menjadi nenek nenek yang akan menceritakan hal-hal lucu yang pernah terjadi didalam persabatan mereka kepada cucu cucu mereka nanti.

“dindaa” suara laki-laki yang sangat ia kenal itu tiba-tiba saja membuat dinda dan juga tiga sahabatnya menghentikan tawa mereka. Panji. Ia ada dideoan pintu pagar rumah tamara. Berdiri tegak dengan wajah yang tidak seperti biasanya. “aku pengen ngomong sebentar. Aku gak bisa lega kalo cuma ngomong lewat teks atau telpon.”
Dinda segera menghampiri panji, “sebelum kamu yang ngomong, kamu dengerin aku dulu ya nji. Aku bukannnya pengen bikin kamu jadi cemburu waktu itu. Aku gak pengen kamu jadi marah sama aku gara-gara aku masih main sama ardi, kalo kamu pikir aku masih suka sama dia, engga kok. Sekarang aku sama dia temenan, sama kayak dulu. Lagian dia gapernah tau aku pernah suka sama dia nji. Ardi tuh sahabat aku.”
“aku juga punya banyak sahabat cewek. Tapi aku selalu bilang kan sama kamu kalo pergi jalan sama mereka. Aku cuman mau kamu jujur aja din. Apalagi aku tau dari oranglain, bukan dari kamu sendiri.”
“iya iya maaf deh. Jangan di besar-besarin nji.”
“yaudah aku balik dulu deh. Rin, fa, tam gue balik ya. Byee.”
“lah????”

Rinjani, ulfa dan tamara sama-sama diam dan menunggu dinda berbicara. Mereka tidak bertanya apa-apa. Tapi dinda sepertinya tidak tertarik untuk menceritakan hal ini pada ketiga sahabatnya, walaupun ia tahu sahabatnya menunggu ia bercerita. Mereka berempat melanjutkan tugas sekolah masing-masing.
            Esoknya disekolah, dinda ingin menghampiri tamara untuk mengajaknya ikut lomba akustik yang diadakan disekolah mereka dalam rangka class meeting yang selalu diadakan di setiap akhir semester. Dinda mengajak tamara untuk bergabung bersama ia dan rinjani untuk ikut serta dalam lomba akustik semester ini. Ya, mereka bertiga punya hobi yang sama, bernyanyi. Berbeda dengan ulfa yang sangat menggemari olahraga bulutangkis.

            Saat sampai dikelas tamara, dinda juga mencari keberadaan panji dibangkunya. Mata mereka bertemu dan panji langsung saja mengalihkan pandangannya dari dinda. Melihat hal itu, dinda bingung sekali apa yang harus ia lakukan. Semenjak panji pulang dari rumah tamara tadi malam, mereka samasekali tidak berkomunikasi. Ia sempat berpikir untuk menghampiri panji dan meminta maaf seklai lagi pada kekasihnya itu, namun niatnya urung ia lakukan karna dinda merasa sudah cukup mieminta maaf tadi malam. Lagian juga ia sudah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada panji. Masalah panji akan memaafkannya atau tidak itu urusan panji, dinda berserah saja. Ia segera menghampiri tamara ke bangkunya dan langsung bicara.
“oy, tam”
“oy nagapain lu? Mau ngomong sama panji?”
“enggak. Mau ngomong sama lu, ikut akustikan yuk. Biar si adra yang main gitar nanti. Gue, lu sama rinjani yang nyanyi.”
“ayok ayok. Lu udah daftar ke panitia nya?”
“udah dong. Gercep kan gue”
“hahaha. Eh btw gimana itu si panji?”
“halah udah lah biarin aja. Gue udah jelasin semuanya kok. Kalo dia mau ngerti ya sukur kalo engga ya urusan dia dah.”
“hmm…”

Mereka pun latihan sebentar untuk memantapkan penampilan mereka nanti siang. Latihan yang juga ditemani oleh ulfa itu mereka jalani dengan semnagat. Bersama adra teman dekat rinjani yang akan mengiringi mereka dengfan bermain gitar, adra adalah pemain gitar disekolah mereka yang cukup handal. Tidak salah dinda mengajak adra untuk mengiringi mereka pada penampilan kali ini. Mereka bertiga memutuskan untuk membawakan lagu dari Dewa yang berjudul pupus dan lagu daerah gundul gundul pacul. Beberapa menit lagi waktunya mereka untuk tampil. Tampaknya mereka sudah lebih dari siap.

Saat rinjani, tamara,dinda dan adra tampil, panji berdiri di depan pintu kelasnya untuk melihat dinda. Ia sengaja tidak berdiri dibangku penonton agar tidak memecahkan konsentrasi dinda. Padahal ia ingin sekali melihat dinda dari dekat dan menyemangati kekasihnya. Tapi apa daya, hubungan mereka saat ini sedang kurang baik.

Setelah selesai, mereka segera turun panggung dengan diiringi tepuk tangan ramai dari penonton. Mereka puas sekali dengan penampilan mereka. Walaupun dengan latihan yang terbilang sangat singkat, mereka mampu menampilkan yang terbaik. Menjadi pemenang jadi tidak terpikirkan oleh mereka, yang terpenting teman-teman sekolahnya bisa puas dengan apa yang mereka tampilkan. Tidak disangka-sangka, mereka mendapatkan juara pertama pada semester ini. Panji sangat senang mengetahui hal itu walaupun dinda tidak mengetahui bahwa panji diam-diam menontonnya dan merasa senang atas kemenangannya.

Hari berikutnya, giliran panji dan para laki-laki sekelasnya bertanding sepak bola. Dinda, tamara, ulfa dan rinjani sama-sama menonton pertandingan itu. Hari ini adalah pertandingan sengit merebutkan siapa yang akan masuk ke babak final. Di tengah pertandingan, panji masuk ke lapangan untuk bermain. Babak pertama keadaan masih imbang, belum ada yang unggul. Lalu babak kedua dimulai. Panji masih bermain dibabak kedua ini, tama menjebol gawang lawan dan skor berbuah menjadi 1-0. Kelas panji dan tama unggul. Tamara langsung berteriak kegirangan. Babak kedua hampi selesai, panji terjatuh dan langsung dibawa ke pinggir lapangan. Kakinya terkilir dan terlihat darah keluar akibat luka akibat terseret di lapangan. Tamara, rinjani, ulfa dan dinda bergegas lari kearah panji yang sekarang berada didepan kelas untuk diobati. Dinda tiba-tiba menghilang, panji menanyakan keberadaan dinda dan ketiga sahabatnya itu tidak ada yang tahu kemana dinda pergi. Beberapa menit kemudian dinda terlihat terhuyung-huyung kearah panji dan ketiga sahabatnya, memberikan obat merah dan penutup luka. Rupanya ia pergi ke ruang kesehatan untuk mengambil obat merah dan penutup luka itu. Panji terlihat senang dengan apa yang dinda lakukan barusan.

Kelas tamara maju menuju babak final dalam pertandingan sepak bola. Dan mendapatkan juara kedua setelah kalah dari kelas X.10

Setelah berhari-hari, bahkan setalah kejadian dinda membawakan obat merah dan penutup luka pada panji, hubungan mereka masih saja belum membaik. Panji dan dinda belum berkomunikasi semenjak berhari-hari yang lalu. Belum ada yang memulai percakapan baik lewat teks maupun bertatap muka. Di sisi lain, panji berpikir bahwa dinda belum bisa menyukainya. Dinda belum bisa membalas perasaanya, dinda hanya mengagumi satu orang dan ardi lah orangnya. Panji berpikir untuk apa lagi ia memaksakan dinda melalukan apa yang tidak ingin dinda lakukan. Jika memang dinda tidak bisa membalas perasaannya, ia pasrah. Dinda berhak bahagia dengan pilihannya, tanpa harus dipaksa melakukan hal yang tidak disukainya. Panji mengerti bahwa hati sesorang tidak bisa dipaksa untuk menyayangi seseorang yang tidak diinginkan. Dan dinda tidak menginginkannya. Ia sadar betul dan bisa merasakannya.

Malam itu, saat rinjani, tamara dan dinda sedasng berkumpul dirumah tamara, panji datang menghampiri dinda. Dinda kaget sekali rupanya.
“din, ikut aku sebentar”
“eh rin, tam bentar ya.” Rinajni dan tamara mengerti keadaan mereka berdua sedang tidak baik. Dan sudsah berhari-hario mereka tidak berkomunikasi. Mereka penasaran sekali apa yang akan dilakukan panji. Pasti panji akan meminta maaf pada dinda, pikir mereka. “kenapa nji?”
“kita putus aja ya din, aku tau kamu gabisa suka sama aku. Sampe kapanpun kamu nyoba buat suka sama aku tapi kalo itu terpaksa tetep aja gaakan bisa din. Maafin aku ya dari awal udah maksa kamu buat ngelakuin apa yang gamau kamu lakuin. Aku sayang sama kamu din. Makasih juga yah.”
“oh, yaudah. Iya sama-sama.” Dinda lekas pergi pulang dan melupakan keberadaan kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya pun bingung kemana sebenarnya dinda, ia tidak kembali semenjak tadi berbicara dengan panji. Panji pun tidak terlihat juga sedari tadi.

Beberapa jam kemudian, dinda kembali kerumah tamara. Rinjani nampak ingin bergegas pulang, tetapi melihat dinda yang datang setelah berjam-jam menghilang membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang. Dinda juga membawa boneka piggy berwarna pink hadiah dari panji saat ulang tahunnya ke 15 waktu itu, kedua sahabatnya bingun sekali kenapa dinda membawa boneka itu, lalu ia mulai bercerita..
“gue putus.”
“hah???” keduanya melontarkan kata-kata yang sama. Dan jelas, mereka terkejut sekali.
“katanya, gue gapernah suka sama dia, yaudah gue mah iya aja.”
“aduhhhh lu bener-bener dah din. Lu terima aja gitu?” sambut tamara
“mau di gimanain lagi sih tam. Udah biarin aja, gue mau buang boneka dari panji. Gue gak bisa nyimpen barang dari dia.”
“yaudah lah. Yang penting lo gak sedih.” Ungkap rinjani.

          
Dinda menyadari bahwa tidak selamanya yang disebut ‘pacar pertama’ akan sangat indah dan membekas. Yang ia alami malah sebaliknya, panji rupanya tidak bisa merasakan bahwa sebenarnya dinda sudah membuka hatinya lebar-lebar untuknya. Tapi dinda tidak punya keberanian untuk mengatakn hal itu, ia pikir kalau panji tidak merasakan perubahan padanya berarti panji belum benar-benar menyayanginya. Panji yang ia pikir bisa membuatnya merasa bahwa ia juga pantas dicintai ternyata juga mematahkan hatinya. Dinda tidak ingin bersedih sebenarnya, tapi airmatanya sudah menggenang dipelis matanya dan tidak bisa lagi ia tahan untuk jatuh. Semalaman ia memikirkan kenangan-kenangan lucu bersama panji selama beberapa pekan mereka berpacaran. Ia sadar benar kalau ia tidak boleh larut dalam kesedihannya. Satu malam ia rasa cukup untuk mengingat semua kenangan mereka. Toh, ia masih punya ketiga sahabatnya yang selalu ada dalam seduh maupun senang. Yang selalu membuatnya tertawa dan tidak akan membuatnya bersedih hanya karna patah hati. Sekarang, yang ia mau hanya selalu bersama sahabat-sahabatnya dan berbagi tawa, menceritakan hal-hal lucu atau apapun itu asal bersama sahabat yang sangat ia sayangi. Beruntungnya dinda memiliki banyak sahabat yang sangat menyayanginya, bukan hanya tamara, rinjani dan ulfa tapi juga masih banyak lagi yang menyayanginya. Yang ia yakini akan selalu ada untuknya. Yang akan membuatnya tertawa ketika ia bersedih. Cinta tidak melulu tentang memiliki, tapi juga berbagi. Berbagi tawa, bukan hanya luka. Dinda banyak belajar dari mencintai. Mencintai sahabat yang juga sangat mencintainya, contohnya. Sampai kapanpun ia harus mengingat bahwa hidup banyak mengajarkannya hal-hal baik walau dari kejadian-kejadian yang cukup buruk. Dan tidak selamanya cinta harus memiliki terkadang cinta lebih banyak untuk melepaskan bukan untuk memiliki.