Dinda,Ulfa,Tamara,dan
Rinjani bersahabat sejak duduk disekolah dasar (SD) sekolah mereka berbeda
tetapi rumah mereka berdekatan sehingga perbedaan sekolah tidak menjadi sebuah
alasan untuk mereka tidak bersama. Beranjak SMP (sekolah menengah pertama)
mereka berbeda sekolah juga. Hanya dinda dan ulfa yang satu sekolah lain
hal-nya dengan rinjani dan tamara mereka berdua berbeda sekolah. Lulus SMP
(sekolah menengah pertama) tidak disangka-disangka dinda,ulfa,tamara, dan
rinjani melanjutkan sekolah mengengah akhir-nya (SMA) di sekolah yang sama,
walaupun mereka berbeda kelas. Hari demi hari persahabatan mereka semakin kuat
karena mereka tidak hanya bertemu disekolah saja tetapi dirumah pun mereka
bertemu,bahkan berangkat serta pulang sekolah selalu bersama-sama. Mereka
bertukar cerita tentang teman-teman baru-nya di kelas mereka masing-masing ada
yang lucu,menyebalkan,seru, ada pula yang aneh. Tidak terasa sudah memasuki
semsester ke-2 di kelas X (sepuluh) seluruh kelas X diwajibkan membuat drama
kelas untuk mata pelajaran “seni budaya” drama itu untuk nilai praktek UAS
(ulangan akhir semester) sehingga semua kelas wajib harus membuat drama.
Kelas-nya tamara mendapat giliran tampil pertama, tamara dan teman sekelas-nya
sedang sibuk-sibuk-nya membuat property untuk keperluan drama, didalam satu
kelas memang ada bagian bagian-nya ada yang menjadi sutradara,aktor,aktris,kru,dan
lain lain. Tamara menjadi penata properti yang agak sulit karena memang diperlukan
kreatifitas yang tinggi ditambah lagi harus hand made (buatan sendiri),karena kebetulan
rumah tamara dekat dari sekolah jadi tamara memustuskan untuk membuat properti
di lapangan perumahan-nya bersama teman sekelas-nya. Tamara meminta
dinda,rinjani,dan ulfa membantu-nya untuk membuat properti dan tamara pun
mengenalkan teman-teman kelasnya.
Tepat
tanggal 27 mei 2013 di malam hari sekitar pukul 19.00 wib tamara,rinjani,dan
ulfa mengajak dinda untuk ikut dengan mereka tetapi dinda masih dalam keadaan
belum mandi dan masih sangat berantakan.
T : “din ayooklah ikut
bentaran doang katanya mau liat temen gua yang kocak”
R : “iya ayo
napaaaaa”
U : “iyakk ayo gua
tungguin lu mandi sekarangg nih”
D : “ah mager guaa
udah lu lu pada aja”
T : “temen nih
begini katanya kite sahabat”
D : “udahhh lu
pada ajaa tar kelamaan kalo nungguin gua mandi”
U : “kagaaa udah
sono mandi tar kan gua tungguin”
R : “tau yak
sonooo mandi cepetan”
D : “bawel semua
lu yee macem mak tiri iyeee elah”
T : “yaudah gau
tunggu lapangan ya temen-temen gua udah pada disana tar kalian nyusul aja ye”
U : “iyak tam
siap”
Dengan
agak terpaksa dinda akhir-nya ikut dengan tamara,ulfa,dan rinjani. Ketika
selesai mandi dinda,rinjani,dan ulfa bergegas menuju lapangan dimana tamara dan
teman sekelas-nya membuat properti drama. Ketika hampir sampai lapangan tamara
dan teman-teman kelas-nya memandang dinda,rinjani,dan ulfa. Panji teman tamara
menanyakan dinda pada tamara, akhirnya tamara pun mengenalkan teman rumahnya
pada teman sekelasnya. Waktu terus berjalan dinda,ulfa,dan rinjani membantu
tamara dan teman sekelas-nya untuk membuat properti,untuk hiburan teman sekelas
tamara mengajak main jempol (ibu jari) usro teman sekelas-nya tamara tidak
berhenti membuat dinda tertawa terbahak bahak karena lelucon yang dia
lontarkan. Tetapi ada yang menganjal sebab sedari tadi ketika semua asik
bermain dan yang tidak ikut bermain asik menonton yang bermain, panji teman
sekelas-nya tamara malah menatap dinda dalam-dalam dinda sadar tetapi dia
pura-pura tidak tau saja karna sebenarnya dinda agak risih jika di tatap dengan
tatapan yang mendalam seperti yang panji lakukan tadi. Waktu menunjukan pukul
22.00 saat-nya kembali ke rumah masing-masing,panji mengikuti dinda dari
belakang panji bilang “gue jagain dia dari belakang takut dia kenapa kenapa” padahal
di posisi itu panji sudah mempunyai kekasih dan dinda mengetahui-nya tetapi
tanggapan dinda yang melihat panji seperti itu sangat biasa yang dia tau
“laki-laki di dunia ini semua begitu-mah wajar paling becadaan doang”. Keesokan
hari-nya tamara meminta rinjani,dan dinda membantu-nya lagi kali ini teman
sekelas-nya hanya beberapa saja tidak sebanyak yang kemarin. Ada Danu,Tama, dan
Alif teman sekelas-nya tamara serta dinda,dan rinjani kali ini ulfa tidak bisa
hadir ikut menemani karena ada acara keluarga. Disitu tiba-tiba Tama meninta
pin blackberry dinda dan langsung meminjam hape dinda dan dinda memberikan-nya.
Properti belum selesai tetapi waktu sudah sangat larut malam akhirnya tamara
memutuskan untuk melanjutkan dirumah tetapi hanya dengan teman teman-nya yang
laki-laki saja,dinda dan rinjani pun pulang kerumah nya masing-masing. Hari
mulai mendekati pementasan drama kelas-nya tamara sehingga tidak ada kata
bermalas-malasan lagi semua teman sekelas-nya membantu proses pembuatan
properti maupun aktor/aktris semua ikut terjun untuk membuat properti. H-2
pementasan,tiba-tiba teman sekelas dinda memberikan bunga pada dinda
R : “din ini nih bunga
dari penggemar rahasia lo.
D : “lah dari
siapa?”
R : “udah nih
terima duluu harus disimpen ya amanah nih”
D : “apaan gamau
gua kalo gajelas dari siapa siapa-nya”
R : “lah udah sih
elahh berarti ga ngehargain lu udah ini nih simpen”
D : “ah bawel iye
iye elahhh”
Setelah menerima
bunga pemberian dari seseorang yang tidak diketahui dinda langsung menyimpan-nya
didalam tas sambil bertanya tanya pemberian dari siapa itu sebenarnya.
Tiba-tiba handphone dinda berbunyi dan ternyata ada pesan dari Tama teman
sekelas-nya tamara yang beberapa hari yang lalu meminjam handphone dinda.
T : “dindaaa”
D : “iyaa kenapa?”
T : “ iseng aja
lagi pengen bbm lu hehehe”
D : “ohgituuu”
T : “lu lagi gaada
pelajaran?”
D : “engga nih
hehe,lu?”
T : “samaa
gaada,gue ganggu lu ga nih?”
D : “engga
koooo,ehtapi brb ya ada guru masuk nih maafya”
T : “iya gapapa
koooo,maaf ganggu ya din”
Setelah beberapa
menit chat-chatan dinda kepikiran sesuatu sebenarnya dia ada perasaan sama tama
tetapi dia ragu dan tidak percaya diri. Bel pulang telah berbunyi saat nya
seluruh murid pulang,seperti biasa tamara,ulfa,rinjani dan dinda pulang
sama-sama. Yang dinda tau teman-nya tamara yang bernama panji sudah mempunyai
pacar yang bernama indah dan indah itu adalah teman smp-nya dinda dulu tetapi
teman-teman sekelas-nya tamara selalu menggoda panji dengan dinda,sebenarnya dinda pun
bingung itu benar atau hanya sekedar gimik atau lelucon belaka. Diperjalanan
pulang rinjani berkata pada dinda
R : “dinnn si
panji serius tuh sama lu,dia bakal mutusin indah demi lu”
D : “ohyaaa?gila
ah luuu bego aja dia mau sama gua, gua ama indah ya jauh lah. Cakepan dia
kemana-mana”
R : “yehhh ga
cayaann bgt sihluuu,cakep mah relative ya nyettt”
D : “emmm gitu
bodoahhh gapeduli hahahahahahahahha”
R : “gaboleh gitu
lu kalo lu diposisi dia gimana?emang enak di bodo amatin?”
D : “sudahlahh iya
iyaaa udah gausah dibahas makanya”
Hari pementasan untuk kelas
tamara pun tiba. Rinjani dan ulfa sudah berada diujung lapangan untuk
,menonton. Tapi dinda tidak terlihat disana, rupanya dikelas dinda sedang berlangsung
pelajaran kimia. Tapi dinda tidak kehabisan akal, dia pura-pura ijin ke toilet
untuk menonton pementasan salah satu sahabatnya itu. Tidak disengaja, mata
dinda dan panji bertemu. Panji terlihat sangat kikuk dan salah tingkah saat
itu. Dinda lekas pergi menghampiri dua sahabatnya yang sudah menunggunya
diujung lapangan untuk menonton.
Seusai
pementasan, tamara berkata pada dinda bahwa ada hal penting yang ingin dia
bicarakan.
T : “din gue mau
ngomong serius sama lu”
D : “lebay batt lu
nyett so bat penting ah”
T : “seriusan
anjir,jadi gini panji serius din sama lu dia udah mutusin indah buat lu”
D : “loh yang
nyuruh putus itu siapa? Gue gapernah nyuruh dia putus sama pacarnya demi gue”
T : “masalahnya
adalah dia suka sama lu dia mau deketin lu”
D : “yayaya what
ever you say lah gapenting ya bahas bahas ginian”
Dinda pun
mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan teman-teman sekelas-nya tamara
tentang panji bukan gimik/sekedar lelucon tapi itu fakta. Dinda bingung
perasaan-nya memang lebih pro kepada tama tetapi panji…bahkan akhir-akhir ini
panji sering main kerumah tamara hanya untuk bertemu dengan dinda padahal
pementasan sudah selesai tetapi dia tetap main kerumah tamara dan akhirnya
dinda pun sering bertatap muka dengan panji ,tama dan teman-nya yang lain.
Panji mendekati dinda dengan waktu yang sangat sangat singkat.
7 juni 2013 sekitar pukul 19.30 wib
rinjani menjemput dinda untuk ikut dengan-nya.
R : “din ayoo ikut
gua yuk naik motor sini”
D: “gua tau itu
motor siapa feeling gua gaenak dahh”
R : “yehh gaenak
gaenak nanti juga lu seneng ayooo buruan”
D : “ada apaan si
anjirrrr,ihelah iyee bawel”
Sesampai-nya dinda
dan rinjani di lapangan ternyata ada tamara dan ulfa, dinda pun terheran-heran
tetapi disitu jantung dinda berdegup sangat kencang seperti ada yang akan
terjadi. Lalu mata dinda ditutup oleh tamara dan di gandeng ketengah lapangan
oleh tamara, tiba tiba panji persis didepan dinda dan mengungkapkan sesuatu
sambil menggegam tangan dinda dengan mata dinda yang tertutup serta ada ahmad
yang mengiringi tamara,ulfa,dan rinjani bernyanyi lagu yg berjudul “could it be
– raisa)
P : “din tau siapa
aku?”
D : “tau, panji
kan?”
Lalu
perlahan-lahan membuka penutup mata dinda.
P : “iya
hehehe,din jadi selama ini aku suka kamu, kamu mau jadi pacar aku?”
D : “ha?emm maaf
bgt njii maff aku gabisa”
P : (diem
gabegerak pucet)
D : “aku gabisa
nolak”
P : “emmmm
yeeeyyyy,makasihh din (ngasih bunga)
setelah itu dinda
melihat tamara,rinjani,dan ulfa di pinggir tembok sedang menutup kuping entah
apa yang mereka lakukan lalu dinda menghampiri-nya
D : “lo pada
ngapain sihhh yaampunnn”
T : “engga,gmn
jawabannyaa?”
D : “ya gua
terimaa,iyakan nji?”
P : “iyaa dongg
taaamm,yeaay akhirnyaaaa”
R : “akhirnyaaaa
dindaaaaa pacaran juga untuk yang pertama kalinyaa! Longlastttt”
U : “iya yaampun
ganyangka bangettt ya din,selamaaat nji dinnn langgeng yaaa”
Y : “lebayyy ah
iya makasih semuaaa”
P : “makasih
semuaaa bantuannya tanpa kalian aku bukan apa-apa”
Setelah dari lapangan
dinda dan panji ngobrol berdua
D : “nji ada yang
aku mau omongin”
P : “ngomong aja
gapapa din”
D : “kamu tau kan
kalo aku baru kali ini pacaran,aku belum diizinin buat pacaran nji jadi kita
bisa diem diem dulu kan pacarannya?”
P : “ohiyaaa gapapa
kok din aku bisa ngertii”
D : “makasih ya
njiii”
P : “gapapaaaa
yaampun gausah bilang makasih udah kewajiban akuu kok”
Kesepakatan antara
dinda dan panji kandas sudah karena tamara,ulfa dan rinjani mengumbar
semua-nyaaa yaaa mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi…
Hari-hari
terus berlalu tak terasa sudah kenaikan kelas ke kelas XI dan tak terasa
hubungan panji dan dinda mau beranjak satu bulan. Tanggal 5 juli 2013 dinda dan
seluruh teman sekelasnya mempunyai acara dengan wali kelas pada saat kelas X
atau dalam istilah lain “perpisahan kelas” dan kebetulan dinda menjadi tim
sukses dari acara itu, ada dinda,sonya,syarifa,alda,tiwi,aldi dan ardi. Mereka
ber-7 tak jarang sering kumpul dirumah dinda untuk mempersiapkan acara
perpisahan kelas, hampir 3 minggu acara
dipersiapkan tetapi belum matang-matang karena ketidaksetujuan dari wali kelas
akhirnya jalan terbaik sudah ditemukan dan sudah dipersiapkan matang-matang.
Ardi sudah janji ingin mengajak dinda ke daerah Jakarta dengan menggunakan
motor tetapi waktu belum tepat karena selalu habis begitu saja ketika rapat
untuk mempersiapkan acara kelas,sampai akhirya ketika rapat selesai sekitar
abis maghrib ardi nekat untuk berangkat tetapi ardi mengajak tiwi dan aldi
untuk ikut ya hitung-hitung pacaran ke daerah Jakarta sambil menikmati indahnya
malam hari. Tetapi bukan kah dinda sudah mempunyai panji?mengapa ia menerima
tawaran ardi? Ya memang dulu dinda sangat sanagt menyukai ardi tetapi semenjak
berteman akrab dinda sudah biasa ya walaupun sebenarnya masih luar biasa karena
dinda sangat mengidolakan sosok seorang ardi, tetapi dinda menerima tawaran
ardi karena dia belum pernah ke Jakarta menggunakan motor. Ardi bergegas
mengembalikan mobil kerumahnya karena waktu kerumah dinda ia menggunakan mobil,
tiwi dan aldi menunggu dirumah dinda, waktu hampir menunjukkan pukul 18.30 tetapi
ardi terjebak macet sebenarnya tiwi ragu karena takut tidak diizinkan oleh
ibunya tetapi tiwi dan aldi tetap ikut dengan dinda dan ardi. Ardi datang,lalu
dinda,tiwi dan aldi bergegas untuk berangkat ke tempat tujuan yaitu “taman
menteng” di daerah Jakarta. Karena dinda merasa jaketnya tipis sedangkan jaket
ardi tebal dinda ingin menukarnya dan ardi pun mengalah memberikan jaketnya
untuk dinda dan ardi memakai jaket dinda setelah siap dinda,ardi,tiwi dan aldi
pamit kepada kebada ibu dinda dan ibu dinda bilang kepada ardi “titip dinda ya
di hati-hati dijalan” sedangkan ibunya belum pernah sama sekali perlalakukan
panji seperti ia memperlakukan ardi. Ya memang ibu dinda agak kurang setuju
dengan panji. Tetapi dinda tetap mempertahankan hubungannya dengan panji. Diperjalanan
dinda sangat merasa bersalah pada panji karena dia tidak meminta izin kepada
panji kalau dia ingin pergi bersama ardi. Dinda sebenernya tau kalau panji
sangat cemburu dengan ardi karena panji tau kalau dulu dinda sangat menyukai
ardi itu juga mejadi alasan mengapa dinda tidak izin atau tidak bilang pada
panji. Semilir angin angin malam sangatlah dingin pada saat itu dan ardi
mengendarai motor dengan kecepatan yang agak kencang sehingga dinda terpaksa
berpegangan dengan ardi tetapi dinda berpegangan dengan jaket ardi tidak sampai
memeluknnya, berpegangan dengan jaket saja dinda sangat memikirkan panji,
perasaan bersalah selalu ada didalam benak dinda tetapi semua sudah terlanjur.
Sesampainya di tempat tujuan dinda,ardi,tiwi,dan aldi berkuliner dan menyusuri
jalan disekitar tempat itu banyak yang menganggumkan karena banyak sekali
komunitas-komunitas yang berkumpul dan dinda benar-benar merasakan apa yang
belum dia rasakan sebelumnya. Setelah puas dengan kota Jakarta di malam hari
itu dinda,ardi,tiwi,dan aldi bergegas untuk pulang kerumah masing-masing
Waktu
semakin cepat saja rasanya. Besok, tepat sebulan dinda menjadi kekasih panji.
Mereka menjalani hubungannya dengan sangat normal, panji adalah sosok laki-laki
yang baik, setidaknya menurut dinda. Ia rutin menanyakan kegiatan dinda,
bagaimana harinya berjalan, juga sangat peduli dengan cerita-cerita yang setiap
hari dilontarkan oleh dinda. Panji adalah pendengar yang baik, yang juga kadang
menjadi pemberi solusi yang baik.
Sebenarnya
walaupun tidak ingin menunggu hari esok, dinda sangat menunggunya. Menunggu apa
yang akan diberikan panji untuknya. Menunggu kejutan apa yang akan diberikan
kekasih pada kekasihnya dihari istimewa.
Di sisi lain, di
tempat yang berbeda. Rinjani, tamara, dan ulfa sedang merancang kejutan untuk
sahabatnya itu, dinda. Besok adalah hari ulagtahun dinda yang ke 15, sahabat
sahabatnya sudah memiliki rentetan acara kejutan untuk sahabatnya itu. Tidak
lupa juga mereka mengajak panji untuk ikut serta didalam rencana mereka. Panji
pun sudah menyiapkan kado untuk dinda, kekasihnya. Rinjani, tamara dan ulfa
juga mengajak teman teman kelas tamara yang saat ini sudah akrab sekali dengan
mereka untuk bergabung memeriahkan acara kejutan mereka ini. Dan mereka semua
meyetujui. Di malam tanggal 7 juli 2013 tepat pukul 23.30 tamara, ulfa dan teman
teman kelas tamara berkumpul dirumah tamara untuk memulai kejutan. Namun kali
ini, rinjani tidak bisa hadir karena malam itu ia harus menemani ibunya yang
sedang kurang sehat. Hal itu pun di maklumi oleh teman teman yang lain. Saat
rencana sudah tersusun dengan sangat rapih, mereka memutuskan untuk mengawali
dengan datang kerumah dinda tepat pukul 24:00. Mereka datang ke kamar dinda
dengan kebisingan yang sebenarnya menggangu anggota keluarga dinda yang lain.
Dinda terlihat sangat malu pada malam buta itu, tetapi rasa senangnya tidak
bisa ia tutupi. Sosok panji belum terlihat saat itu, panji adalah kejutan
terakhir dari sahabatnya untuknya. Malam itu adalah hari ulangtahun dinda
sekaligus hari dimana dinda dan panji tepat sebulan menjalin hubungan. Malam memang
selalu menjadi saksi terbaik dari setiap kejadian kejadian indah yang terjadi
di bumi.
Setelah meniup lilin dan sebagainya,
sahabatnya menggiring dinda menuju pagar rumahnya dan disanalah ada sosok
laki-laki berdiri sangat tegak sambil memegang setangkai bunga dan menggendong
sebuah boneka berwarna pink, warna kesukaan dinda. Panji memberikan hadiah yang
telah dibawanya kepada dinda, yang diterima oleh dinda dengan senang.
Awalnya, pada hari dimana panji
menyatakan perasaannya dan meminta dinda untuk menjadi pacarnya, dinda belum
sepenuhnya percaya bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama seperti yang
dirasakan oleh panji. Dinda selalu merasa membohongi dirinya seniri, tamn
temannya, dan juga panji. Ia sendiri pun masih bingung dengan apa yang ia
rasakan. Dinda belum benar benar menyukai panji, apalagi menyayanginya. Lalu
apa yang sebenarnya ia rasakan pada laki-laki yang saat ini sudah menjadi
kekasihnya? Bahkan dinda sendiri pun tidak mengetahui jawabannya. Tapi setelah
pekan demi pekan yang mereka lewati, mungkin rasa yang dirasakan panji mulai
dirasakan pula oleh dinda. Dinda menyadari bahwa apa yang panji rasakan
benar-benar nyata, bukan kagum belaka. Mungkin selama ini hatinya takut kalau
ia hanya dikagumi. Hari dimana umurnya bertambah ini meyakinkannya bahwa ia
harus mulai mencoba untuk memperlakukan panji sebagaimana panji
memperlakukannya.
Bunga
yang panji berikan tadi malam sudah nampak mulai layu. Ingin rasanya dinda
menaruhnya di vas bungta dan mengawetkannya. Tapi mau bagaimana, ibu nya akan
mengetahui itu pemberian dari siapa an akan terus menerus meledeknya. Bukan
hanya ibunya yang akan mengetahui, adik, kakak, serta ayahnya pun pasti akan
ikut meledeknya. Tidak. Dinda memutuskan untuk membiarkan bunga itu layu lalu
akan ia buang setelah nya.
Dinda terus saja
memandangi boneka piggy berwarna pink yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk
dipeluk oleh kedua tangannya pemberian dari panji. Dinda memandanginya sambil
tak jarang memeluknya. Boneka iitu telah resmi menjadi teman barunya saat ini.
Teman barunya untuk bercerita. Dan sekaligus obat rindu ketika sang pemberi
berada jauh dari dirinya.
Malam itu, ketika rinjani, dinda,
tamara dan ulfa berkumpul dirumah tamara seperti hari sebelumnya untuk bermain
sekaligus mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba panji mengirim sebuah teks ke
ponsel dinda yang membuat dinda sedikit kaget lalu berubah raut wajahnya. Teman
temannya mengerti, ada yang tidak beres. Beberapa menit kemudian, dinda baru
bercerita kalau panji sudah mengetahui perihal kepergiannya bersama ardi dan
teman temannya yang lain keliling Jakarta. Dinda mengakui kesalahannya yang
tidak meberitahu panji atas kepergiannya malam itu, bukan maksud dinda
sebenarnya untuk berbohong. Dinda hanya tidak ingin membuat panji berpikir yang
bukan bukan. Tapi dinda juga sadar, tidak memberitahu panji itu juga berarti
bencana. Dan bencana yang ia mulai dari beberapa hari yang lalu kini sudah
terjadi. Apa boleh buat, dinda mengakui semuanya pada panji. Dinda pun
mengatakan alas an mengapa ia tidak memberitahu pacarnya itu. Ternyata tidak
lebih baik keadaannya, memang sudah seharusnya dari awal ia memberitahukan
panji.
D: “ panji tau
darimana yaaa?”
U: “aduhhh gatau gue”
R: “ kayaknya gue deh yang ga sengaja keceplosan. Tapi gue lupa giamana
persisnya, feeling gue sih gue yang bilang ke panji, din. Sorry banget sumpah”
D: “ iya gapapa. Emang salah gue juga sih awalnya. Si panji marah banget lagi
nih sama gue, lu pada tau sendiri kan gimana cemburunya dia sama ardi. Gara
gara dia tau gue pernah suka sama ardi. Gue mesti gimana ya?”
T: “ cowok mah emang gitu, ntar juga reda sendiri dia. Lama lama juga dia
ngerti kenapa lo ga bilang sama dia waktu itu. Ntar gue bantuin ngomong deh yak
ke dia. Santai aja din, dia mah keselnya sebentar doang.”
U: “ wihhh kayaknya tamara tau banget ya sifatnya hahahahaha”
R: “ya iyalah fa, kan temen sekelasnya….”
T: “yaudahlah masalah panji ntar aja dibahasnya, bikin si dinda malah tambah bete
kasian kalo dibahas mulu. Cerita yang lain aja kita cuy”
Mereka pun larut
dalam cerita masing-masing. Memang sudah menjadi rutinitas untuk mereka
menceritakan tentang yang terjadi pada masing-masing dari mereka satu sama
lain. Setiap harinya pasti ada saja cerita baru yang wajib diceritakan saat
berkumpul. Kadang juga mereka berkumpul dirumah ulfa, dirumah rinjani dan
dinda. Tapi memang, rumah tamara adalah yang paling sering di datangi. Mereka
sangat sederhana, tertawa, tanpa embel-embel harus saling mengikat. Yang paling
penting adalah bagaimana caranya agar terus bisa bersama-sama membagi cerita,
sedih ataupun bahagia. Ketika yang lain susah, yang lain bahu membahu untuk menolong. Harapan mereka Cuma satu,
bersama-sama sampai tua. Sampai memiliki suami dan menjadi nenek nenek yang
akan menceritakan hal-hal lucu yang pernah terjadi didalam persabatan mereka
kepada cucu cucu mereka nanti.
“dindaa” suara
laki-laki yang sangat ia kenal itu tiba-tiba saja membuat dinda dan juga tiga
sahabatnya menghentikan tawa mereka. Panji. Ia ada dideoan pintu pagar rumah
tamara. Berdiri tegak dengan wajah yang tidak seperti biasanya. “aku pengen
ngomong sebentar. Aku gak bisa lega kalo cuma ngomong lewat teks atau telpon.”
Dinda segera menghampiri panji, “sebelum kamu yang ngomong, kamu dengerin aku
dulu ya nji. Aku bukannnya pengen bikin kamu jadi cemburu waktu itu. Aku gak
pengen kamu jadi marah sama aku gara-gara aku masih main sama ardi, kalo kamu
pikir aku masih suka sama dia, engga kok. Sekarang aku sama dia temenan, sama
kayak dulu. Lagian dia gapernah tau aku pernah suka sama dia nji. Ardi tuh
sahabat aku.”
“aku juga punya banyak sahabat cewek. Tapi aku selalu bilang kan sama kamu kalo
pergi jalan sama mereka. Aku cuman mau kamu jujur aja din. Apalagi aku tau dari
oranglain, bukan dari kamu sendiri.”
“iya iya maaf deh. Jangan di besar-besarin nji.”
“yaudah aku balik dulu deh. Rin, fa, tam gue balik ya. Byee.”
“lah????”
Rinjani, ulfa dan
tamara sama-sama diam dan menunggu dinda berbicara. Mereka tidak bertanya
apa-apa. Tapi dinda sepertinya tidak tertarik untuk menceritakan hal ini pada
ketiga sahabatnya, walaupun ia tahu sahabatnya menunggu ia bercerita. Mereka
berempat melanjutkan tugas sekolah masing-masing.
Esoknya disekolah, dinda ingin
menghampiri tamara untuk mengajaknya ikut lomba akustik yang diadakan disekolah
mereka dalam rangka class meeting
yang selalu diadakan di setiap akhir semester. Dinda mengajak tamara untuk
bergabung bersama ia dan rinjani untuk ikut serta dalam lomba akustik semester
ini. Ya, mereka bertiga punya hobi yang sama, bernyanyi. Berbeda dengan ulfa
yang sangat menggemari olahraga bulutangkis.
Saat sampai dikelas tamara, dinda
juga mencari keberadaan panji dibangkunya. Mata mereka bertemu dan panji
langsung saja mengalihkan pandangannya dari dinda. Melihat hal itu, dinda
bingung sekali apa yang harus ia lakukan. Semenjak panji pulang dari rumah
tamara tadi malam, mereka samasekali tidak berkomunikasi. Ia sempat berpikir
untuk menghampiri panji dan meminta maaf seklai lagi pada kekasihnya itu, namun
niatnya urung ia lakukan karna dinda merasa sudah cukup mieminta maaf tadi
malam. Lagian juga ia sudah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada panji.
Masalah panji akan memaafkannya atau tidak itu urusan panji, dinda berserah
saja. Ia segera menghampiri tamara ke bangkunya dan langsung bicara.
“oy, tam”
“oy nagapain lu? Mau ngomong sama panji?”
“enggak. Mau ngomong sama lu, ikut akustikan yuk. Biar si adra yang main gitar
nanti. Gue, lu sama rinjani yang nyanyi.”
“ayok ayok. Lu udah daftar ke panitia nya?”
“udah dong. Gercep kan gue”
“hahaha. Eh btw gimana itu si panji?”
“halah udah lah biarin aja. Gue udah jelasin semuanya kok. Kalo dia mau ngerti
ya sukur kalo engga ya urusan dia dah.”
“hmm…”
Mereka
pun latihan sebentar untuk memantapkan penampilan mereka nanti siang. Latihan
yang juga ditemani oleh ulfa itu mereka jalani dengan semnagat. Bersama adra
teman dekat rinjani yang akan mengiringi mereka dengfan bermain gitar, adra
adalah pemain gitar disekolah mereka yang cukup handal. Tidak salah dinda
mengajak adra untuk mengiringi mereka pada penampilan kali ini. Mereka bertiga
memutuskan untuk membawakan lagu dari Dewa yang berjudul pupus dan lagu daerah
gundul gundul pacul. Beberapa menit lagi waktunya mereka untuk tampil.
Tampaknya mereka sudah lebih dari siap.
Saat
rinjani, tamara,dinda dan adra tampil, panji berdiri di depan pintu kelasnya
untuk melihat dinda. Ia sengaja tidak berdiri dibangku penonton agar tidak
memecahkan konsentrasi dinda. Padahal ia ingin sekali melihat dinda dari dekat
dan menyemangati kekasihnya. Tapi apa daya, hubungan mereka saat ini sedang
kurang baik.
Setelah
selesai, mereka segera turun panggung dengan diiringi tepuk tangan ramai dari
penonton. Mereka puas sekali dengan penampilan mereka. Walaupun dengan latihan
yang terbilang sangat singkat, mereka mampu menampilkan yang terbaik. Menjadi pemenang
jadi tidak terpikirkan oleh mereka, yang terpenting teman-teman sekolahnya bisa
puas dengan apa yang mereka tampilkan. Tidak disangka-sangka, mereka
mendapatkan juara pertama pada semester ini. Panji sangat senang mengetahui hal
itu walaupun dinda tidak mengetahui bahwa panji diam-diam menontonnya dan
merasa senang atas kemenangannya.
Hari
berikutnya, giliran panji dan para laki-laki sekelasnya bertanding sepak bola.
Dinda, tamara, ulfa dan rinjani sama-sama menonton pertandingan itu. Hari ini
adalah pertandingan sengit merebutkan siapa yang akan masuk ke babak final. Di
tengah pertandingan, panji masuk ke lapangan untuk bermain. Babak pertama
keadaan masih imbang, belum ada yang unggul. Lalu babak kedua dimulai. Panji
masih bermain dibabak kedua ini, tama menjebol gawang lawan dan skor berbuah
menjadi 1-0. Kelas panji dan tama unggul. Tamara langsung berteriak kegirangan.
Babak kedua hampi selesai, panji terjatuh dan langsung dibawa ke pinggir
lapangan. Kakinya terkilir dan terlihat darah keluar akibat luka akibat
terseret di lapangan. Tamara, rinjani, ulfa dan dinda bergegas lari kearah
panji yang sekarang berada didepan kelas untuk diobati. Dinda tiba-tiba
menghilang, panji menanyakan keberadaan dinda dan ketiga sahabatnya itu tidak
ada yang tahu kemana dinda pergi. Beberapa menit kemudian dinda terlihat
terhuyung-huyung kearah panji dan ketiga sahabatnya, memberikan obat merah dan
penutup luka. Rupanya ia pergi ke ruang kesehatan untuk mengambil obat merah
dan penutup luka itu. Panji terlihat senang dengan apa yang dinda lakukan
barusan.
Kelas
tamara maju menuju babak final dalam pertandingan sepak bola. Dan mendapatkan
juara kedua setelah kalah dari kelas X.10
Setelah
berhari-hari, bahkan setalah kejadian dinda membawakan obat merah dan penutup
luka pada panji, hubungan mereka masih saja belum membaik. Panji dan dinda
belum berkomunikasi semenjak berhari-hari yang lalu. Belum ada yang memulai
percakapan baik lewat teks maupun bertatap muka. Di sisi lain, panji berpikir
bahwa dinda belum bisa menyukainya. Dinda belum bisa membalas perasaanya, dinda
hanya mengagumi satu orang dan ardi lah orangnya. Panji berpikir untuk apa lagi
ia memaksakan dinda melalukan apa yang tidak ingin dinda lakukan. Jika memang
dinda tidak bisa membalas perasaannya, ia pasrah. Dinda berhak bahagia dengan
pilihannya, tanpa harus dipaksa melakukan hal yang tidak disukainya. Panji
mengerti bahwa hati sesorang tidak bisa dipaksa untuk menyayangi seseorang yang
tidak diinginkan. Dan dinda tidak menginginkannya. Ia sadar betul dan bisa
merasakannya.
Malam
itu, saat rinjani, tamara dan dinda sedasng berkumpul dirumah tamara, panji
datang menghampiri dinda. Dinda kaget sekali rupanya.
“din, ikut aku sebentar”
“eh rin, tam bentar ya.” Rinajni dan tamara mengerti keadaan mereka berdua
sedang tidak baik. Dan sudsah berhari-hario mereka tidak berkomunikasi. Mereka
penasaran sekali apa yang akan dilakukan panji. Pasti panji akan meminta maaf
pada dinda, pikir mereka. “kenapa nji?”
“kita putus aja ya din, aku tau kamu gabisa suka sama aku. Sampe kapanpun kamu
nyoba buat suka sama aku tapi kalo itu terpaksa tetep aja gaakan bisa din.
Maafin aku ya dari awal udah maksa kamu buat ngelakuin apa yang gamau kamu
lakuin. Aku sayang sama kamu din. Makasih juga yah.”
“oh, yaudah. Iya sama-sama.” Dinda lekas pergi pulang dan melupakan keberadaan
kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya pun bingung kemana sebenarnya dinda, ia
tidak kembali semenjak tadi berbicara dengan panji. Panji pun tidak terlihat
juga sedari tadi.
Beberapa
jam kemudian, dinda kembali kerumah tamara. Rinjani nampak ingin bergegas
pulang, tetapi melihat dinda yang datang setelah berjam-jam menghilang
membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang. Dinda juga membawa boneka piggy
berwarna pink hadiah dari panji saat ulang tahunnya ke 15 waktu itu, kedua
sahabatnya bingun sekali kenapa dinda membawa boneka itu, lalu ia mulai
bercerita..
“gue putus.”
“hah???” keduanya melontarkan kata-kata yang sama. Dan jelas, mereka terkejut
sekali.
“katanya, gue gapernah suka sama dia, yaudah gue mah iya aja.”
“aduhhhh lu bener-bener dah din. Lu terima aja gitu?” sambut tamara
“mau di gimanain lagi sih tam. Udah biarin aja, gue mau buang boneka dari
panji. Gue gak bisa nyimpen barang dari dia.”
“yaudah lah. Yang penting lo gak sedih.” Ungkap rinjani.
Dinda
menyadari bahwa tidak selamanya yang disebut ‘pacar pertama’ akan sangat indah
dan membekas. Yang ia alami malah sebaliknya, panji rupanya tidak bisa
merasakan bahwa sebenarnya dinda sudah membuka hatinya lebar-lebar untuknya.
Tapi dinda tidak punya keberanian untuk mengatakn hal itu, ia pikir kalau panji
tidak merasakan perubahan padanya berarti panji belum benar-benar
menyayanginya. Panji yang ia pikir bisa membuatnya merasa bahwa ia juga pantas
dicintai ternyata juga mematahkan hatinya. Dinda tidak ingin bersedih
sebenarnya, tapi airmatanya sudah menggenang dipelis matanya dan tidak bisa
lagi ia tahan untuk jatuh. Semalaman ia memikirkan kenangan-kenangan lucu
bersama panji selama beberapa pekan mereka berpacaran. Ia sadar benar kalau ia
tidak boleh larut dalam kesedihannya. Satu malam ia rasa cukup untuk mengingat
semua kenangan mereka. Toh, ia masih punya ketiga sahabatnya yang selalu ada
dalam seduh maupun senang. Yang selalu membuatnya tertawa dan tidak akan
membuatnya bersedih hanya karna patah hati. Sekarang, yang ia mau hanya selalu
bersama sahabat-sahabatnya dan berbagi tawa, menceritakan hal-hal lucu atau
apapun itu asal bersama sahabat yang sangat ia sayangi. Beruntungnya dinda
memiliki banyak sahabat yang sangat menyayanginya, bukan hanya tamara, rinjani
dan ulfa tapi juga masih banyak lagi yang menyayanginya. Yang ia yakini akan
selalu ada untuknya. Yang akan membuatnya tertawa ketika ia bersedih. Cinta
tidak melulu tentang memiliki, tapi juga berbagi. Berbagi tawa, bukan hanya
luka. Dinda banyak belajar dari mencintai. Mencintai sahabat yang juga sangat
mencintainya, contohnya. Sampai kapanpun ia harus mengingat bahwa hidup banyak
mengajarkannya hal-hal baik walau dari kejadian-kejadian yang cukup buruk. Dan tidak selamanya cinta harus memiliki terkadang cinta lebih banyak untuk melepaskan bukan untuk memiliki.